Perhatian! Pendakian Gunung Kerinci Dibatasi Sampai Shelter 2

Kerinci

Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) menetapkan pembatasan pendakian Gunung Kerinci mulai 8 Desember 2023. Pendakian hanya bisa dilakukan sampai shelter 2.

Shelter 2 itu merupakan batas radius 3 kilometer (km) dari kawah atau puncak gunung. Batasan itu berlaku untuk jalur pendakian via Kersik Tuo, sedangkan via jalur Solok Selatan, Sumatera Barat hanya boleh sampai batas Camp Tapir.

Keputusan itu berdasarkan surat pengumuman bernomor PG/1304/T.1/BIDTEK/KSA/12/2023, tanggal 8 Desember 2023. Surat itu ditandatangani oleh Kepala BBTNKS Haidir. Terkait pengumuman itu dibenarkan oleh Dudung, petugas Pos R10 atau Pos Registrasi Gunung Kerinci.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Iya ini surat edaran yang dikeluarkan oleh pihak taman nasional,” kata Dudung kepada detikSumbagsel, Jumat (8/12/2023) dan dikutip Sabtu (9/12).

Dia menyebut pembatasan aktivitas pendakian itu bukan berati pendakian ditutup. Pendakian Kerinci tetap boleh dilakukan, namun diberikan batasan. Ketetapan itu berlaku mulai tanggal 8 Desember 2023 sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa hasil pengamatan Gunung Kerinci berada di status Waspada atau Level II. Karenanya, direkomendasikan untuk masyarakat dan pengunjung atau pendaki tidak diperbolehkan mendaki area kawah yang ada di puncak Gunung Kerinci di radius 3 km.

Dari catatan detikTravel, Gunung Kerinci mengalami erupsi pada 4 Februari 2023. Saat itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kerinci, Jambi menyebutkan sejumlah desa di Kecamatan Gunung Tujuh terdampak semburan. Abu vulkanik yang disemburkan teramati setinggi 200 meter di atas puncak atau 4.005 meter dari atas permukaan laut. Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 2 milimeter dan durasi sementara kurang lebih 1 jam 40 menit.

Dudung menjelaskan terkait surat tersebut pihaknya akan melakukan pengawasan terhadap pendaki. Pengawasan itu berupa adanya dengan surat pernyataan dari pendaki jika mereka melewati batas yang ditentukan maka itu di luar tanggung jawab pengelola.

“Untuk pengawasan terhadap pendaki di lapangan kami melalui pernyataan yang diisi oleh pendaki tersebut. Namun apabila sudah dilakukan hal demikian pendaki tetap memaksa ke puncak dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka di luar tanggung jawab pihak pengelola,” kata dia.

Selanjutnya, dalam poin surat pengumuman itu juga disebutkan bahwa keputusan diambil berkaca pada erupsi Gunung Marapi, Sumatera Barat pada Minggu (3/12/2023).

“Itu dilakukan jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti beberapa gunung di Indonesia yang saat ini banyak mengalami kenaikan keaktifan,” kata Dudung.

Artikel ini sudah lebih dulu tayang di detikSumut. Selengkapnya klik di sini.

Simak Video “Dokter Anak soal Dampak Fisik-Mental Bagi Balita Mendaki Gunung”[Gambas:Video 20detik](fem/fem)

 

Updated: Desember 9, 2023 — 2:31 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *