Setelah Veto AS, Israel Semakin Perluas Serangan Darat

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Sejak gencatan senjata selama satu pekan berakhir pekan lalu, Israel memperluas serangan darat wilayah selatan Jalur Gaza dengan merangsek masuk ke Khan Younis. Terlebih lagi setelah Amerika Serikat (AS) memveto resolusi gencatan senjata di Dewan Keamanan PBB.

Penasihat Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi mengatakan sejauh ini pasukan Israel telah membunuh 7.000 anggota Hamas tanpa mengungkapkan bagaimana perkiraan itu dicapai.

Baca Juga

Zionis Israel tidak Cuma Bangkrut Ekonomi, Ini Kerugian Tentara Mereka Akibat Gempur Gaza

Israel Jatuhkan Selebaran Berisi Surat Al Ankabu tanpa Tahu Maknanya

Dicatut Zionis Israel Jadi Alat Propaganda, Ini 6 Fakta Seputar Tafsir Al-Ankabut Ayat 14 

“Kami harus menekan lebih keras,” kata komandan militer IDF Letnan Jenderal Herzi Halevi pada tentaranya, Sabtu (9/12/2023).

Kementerian Kesehatan Palestina mencatat hingga Sabtu kemarin korban jiwa akibat serangan Israel ke Gaza mencapai lebih dari 17.700 orang. Banyak orang yang masih dinyatakan hilang dan diduga meninggal dunia di bawah puing-puing bangunan. Sebelumnya kementerian memperkirakan 40 persen korban jiwa berusia di bawah 18 tahun.

Di media sosial X, dalam bahasa Arab juru bicara Israel mengunggah peta yang menyoroti enam blok bernomor di Khan Younis. Warga yang tinggal di blok-blok itu diperintahkan “segera” mengungsi. Blok-blok itu termasuk bagian dari pusat kota yang belum pernah mendapat perintah mengungsi sebelumnya.

Israel mengeluarkan peringatan serupa sebelum menyerang timur Khan Younis. Warga mengatakan perintah evakuasi terbaru menandai serangan lebih lanjut.

“Mungkin hanya masalah waktu saja sebelum mereka menyerang daerah kami. Kami telah mendengar suara bom sepanjang malam,” kata Zainab Khalil, 57 tahun, yang mengungsi bersama 30 kerabat dan teman-temannya di Khan Younis dekat jalan Jalal di mana tentara menyuruh orang-orang untuk pergi.

“Kami tidak tidur di malam hari, kami tetap terjaga, kami mencoba menidurkan anak-anak dan kami tetap terjaga karena takut tempat itu akan dibom dan kami harus berlari membawa anak-anak keluar. Pada siang hari, tragedi lain muncul, yaitu: bagaimana memberi makan anak-anak?”

Dengan pertempuran yang berkecamuk di seluruh wilayah, penduduk dan badan-badan PBB mengatakan saat ini tidak ada tempat yang aman untuk mengungsi, meskipun Israel membantahnya. 

sumber : Reuters

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika …

 

Updated: Desember 10, 2023 — 6:48 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *